Pages

Harapan Hidup dari Rumput Laut

Pembudidaya rumput laut di Desa Laemanta, Kecamatan Kasimibar, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, menebar bibit untuk ditanam di Teluk Tomini, akhir Februari 2011. 
 
 

WAKATOBI, KOMPAS.com - Mengarungi perairan Pulau Kaledupa dan Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi, tali-tali sepanjang ratusan meter yang merangkai bibit rumput laut dengan mudah dijumpai. Bibit yang terangkai dengan tali itu menjadi simbol harapan hidup, tak cuma bagi masyarakat lokal tetapi juga bagi ekosistem laut.

Bagi Saridi, warga Derawa, misalnya, rumput laut kini menjadi sumber penghasilan utama. Dari rumput laut, Saridi bisa menyekolahkan keempat anaknya. "Satu anak saya sekarang kuliah di Makassar. Yang lain masih SMP dan SD. Bayar biaya sekolah dari rumput laut ini.  Sekali panen rumput laut bisa dapat500 kg sampai 1 ton. Kita jual ke Bau-Bau biasanya, harganya Rp 8.000 per kg," tuturnya.

Rumput laut dijual setelah dikeringkan secara alami selama 3-4 hari menggunakan sinar matahari. Dari Bau-bau, rumput laut akan dikirim ke Surabaya.  Ketua Forum Kaledupa Taudani (Forkani) La Beloro menuturkan rumput laut biasanya panen setelah 45 hari. Kalau sudah dijemur nanti ada pengumpul yang menampung.

Dari rumput laut, uang yang dihasilkan bahkan lebih tinggi dari hasil penangkapan ikan. Budidaya rumput laut di Wakatobi dijalankan sepanjang tahun. Namun, warga mengaku bahwa saat terbaik untuk penanaman adalah saat musim timur.  Pada saat itu, panen bisa lebih besar dan dikeringkan dalam waktu cepat. Kala musim barat, biasanya jumlah hasil panen menurun.

Untuk membudidayakan rumput laut, warga menggunakan wilayah laut yang sesuai. Setiap warga memiliki area menanam sendiri yang diklaim menjadi hak milik berdasarkan siapa yang memakainya terlebih dahulu. Warga biasanya menentukan area dengan melihat arus dan adanya lamun. Saat ini, beberapa warga mengaku bahwa lahan budidaya sudah penuh.

"Kalau orang baru mau menanam sudah susah. Bisa juga beli tapi mahal, bisa 7 juta untuk satu area," kata Saridi.

Cara lain, warga bisa minta ijin atau sewa di area orang lain, namun biasanya tak diijinkan untuk menanam dalam jumlah banyak. Rumput laut sebenarnya sudah dibudidayakan masyarakat Wakatobi sejak lebih dari 10 tahun lalu. Namun, saat dipandang belum menjanjikan, banyak warga masih menggantungkan pada hasil penangkapan ikan. Tak jarang, praktek penangkapan yang merusak dilakukan untuk meningkatkan pendapatan.

"Dulu kita banyak pakai bom dan bius," ungkap Beloro.
Juvenile ikan atau ikan yang belum dewasa kadang juga ditangkap sehingga akhirnya nelayan sulit mendapat ikan. "Pada tahun 2004, kita merasa hampir tidak ada ikan," lanjut Beloro.

Sebuah survei pada tahun 2007-2010 juga menyebut bahwa 80 persen ikan tangkap adalah juvenile. Praktek perusakan lingkungan yang sebelumnya juga marak adalah penambangan karang. Koordinator Progran WWF Wakatobi Sugiyanta mengatakan, "Beberapa tahun kemarin sempat teridentifikasi 72 penambang. Dari jumlah tersebut, 30 di antaranya murni penambang, sementara yang lain hanya sampingan."

Menurut Sugiyanta, ada 3 faktor yang menyebabkan warga menambang. "Pertama karena tidak punya mata pencaharian lain. Kemudian karena lebih lebih mudah mendapat cash dan adanya permintaan," ucap Sugiyanta.

Kini, jumlah penambang memang sudah menurun, tapi belum benar-benar habis. Sugiyanta mengatakan, budidaya rumput laut bisa menjadi suatu alternatif mata pencaharian. Lewat budidaya rumput laut, tekanan terhadap alam akibat eksploitasi ikan dan karang berkurang. Hal ini juga memberi harapan hidup pada ekosistem. Budidaya rumput laut sendiri kini menyisakan tantangan. Bantuan pemerintah kadang tidak tepat.

"Kita tidak butuh tali, tapi pemerintah memberi kita tali. Yang kita butuhkan adalah benihnya yang bagaimana, lalu kepadatannya, kondisi eksosistem yang bagus bagaimana, itu kita buta," kata Beloro.

Menurutnya, yang diperlukan saat ini adalah pengetahuan, terutama pada cara budidaya yang tepat, cara mengatasi hama dan menentukan saat yang tepat untuk mulai menebar bibit. "Sampai sekarang belum ada bantuan seperti itu," kata Beloro yang ditemui dalam media trip bersama WWF Kamis (5/5/11) lalu.

Sementara itu, pembudidaya rumput laut dari Dewara, Jumani mengatakan, "Bantuan pemerintah sering salah sasaran. Pernah ada bantuan pengolahan pasca panen, tetapi yang dilatih justru bidan dan orang lain yang bukan pembudidaya. Seharusnya kita yang dilatih."

Hingga saat ini, belum juga ada bantuan pengering rumput laut. Ini mengakibatkan sulitnya pembudidaya saat harus mengeringkan di musim hujan. "Saat musim hujan, pengeringannya bisa sampai 10 hari," kata Jumani.

Akibat terlalu lama dalam kondisi basah, rumput laut yang dipanen kadang justru rusak. Bantuan untuk meningkatkan hasil budidaya rumput laut diperlukan sehingga benar-benar bisa memberikan penghasilan bagi warga. Dengan memiliki alternatif, tekanan pada ekosistem laut bisa dikurangi sehingga membantu upaya konservasi. Ini sangat krusial dengan status Wakatobi sebagai Taman Nasional. Warga Kaledupa yang terbina dalam Forkani kini sudah memiliki kesadaran pentingnya pengelolaan sumber daya alam.

"Sumber daya alam sangat terbatas. Kalau habis akan berdampak pada kehidupan komunitas. Jika kehilangan alam, komunitas akan keluar, tapi harus kemana. Pindah ke tempat lain, bisa diusir," kata Beloro. Bantuan yang tepat untuk meningkatkan hasil budidaya bisa membantu menyalakan semangat pelestarian itu.
Baca Selengkapnya...

Pelatihan Remote Sensing untuk Perikanan dan Pembuatan Terumbu Karang Buatan

Pada 23 – 24 Maret yang lalu BROK bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbawa mengadakan pelatihan Remote Sensing untuk Perikanan dan Pembuatan Terumbu Karang Buatan. Kegiatan yang diadakan di aula seolah SMKN I Alas ini, diikuti oleh perwakilan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbawa, taruna – taruni SMKN I Alas, tokoh masyarakat serta para nelayan dari desa Bungin dan desa Kaung. Dari BROK sendiri, diwakili oleh tiga orang yaitu Dr.rer.nat Agus Setiawan, M.Si Bambang Sukresno, M.Si dan Elvan Ampou, S.Ik.

Pelatihan pada hari pertama diawali dengan penandatanganan Kesepakatan Kerjasama antara BROK dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumbawa yang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama antar institusi, juga untuk peningkatan kapasitas sumberdaya manusia di Kabupaten Sumbawa, serta diseminasi hasil riset kelautan yang dilaksanakan oleh BROK.

Materi remote sensing dipresentasikan oleh Bambang Sukresno, M.Si yang membahas secara umum mengenai teknologi remote sensing serta aplikasinya untuk perikanan di Indonesia, dilanjutkan dengan penjelasan secara mendetil mengenai kegiatan PPDPI yang dilaksanakan oleh BROK. Sedangkan Elvan Ampou, M.Sc mempresentasikan pembuatan terumbu karang buatan yang merupakan salah satu upaya penting dalam penyelamatan terumbu karang di Indonesia, yang tidak terlepas dari kelestarian pengelolaan sumberdaya laut termasuk sumberdaya ikan.

Pelatihan pada hari kedua dilanjutkan dengan praktek penanaman terumbu karang buatan yang dilakukan di perairan sekitar desa Bungin dan desa Kaung dengan perkiraan bahwa dalam waktu 3 hingga 6 bulan kedepan terumbu karang buatan tersebut telah ditumbuhi oleh karang sehingga bisa digunakan untuk konservasi di lokasi yang terumbu karangnya telah rusak. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan adanya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian terumbu karang.
Baca Selengkapnya...

Kulit Tuna Tersamak Bisa Setara Kulit Sapi Tersamak

Produk kerajinan berbahan kulit ikan bernilai pasar tinggi karena memiliki karakteristik unik menarik yang memberi kesan berbeda dengan produk berbahan kulit ruminansia maupun reptilian. Bila sudah disamak, mutu dan kekuatannya bisa menyamai kulit hewan lain.

Tetapi kulit ikan mudah sekali rusak sehingga perlu penanganan cermat dan kondisi yang baik sebelum dan selama penyamakan agar mutu hasilnya terjamin. Kesegaran kulit ikan yang akan disamak harus prima, diolah segera setelah dilepaskan dari tubuh ikan. Cara pelepasan tersebut juga harus ditangani dengan baik. Selain langkah-langkah penyamakan yang umum, penyesuaian perlakuan perlu dikembangkan sesuai jenis ikan yang kulitnya ditangani.

Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan telah merancang perlakuan dalam proses penyamakan kulit ikan tuna sehingga hasilnya setara dengan kulit sapi tersamak. Ada 10 tahap proses penyamakan yang dilakukan, yakni sebagai berikut.

1. Preparasi kulit tuna: Kulit disortasi berdasarkan kesegaran, kerusakan, luas, ketebalan, lalu dicuci dan dibersihkan dari sisa-sisa daging dan kotoran.
2. Pengapuran: Kulit direndam dalam larutan kapur dengan rasio 500% air, 3% Na2S dan 3% Ca(OH)2 selama 20-24 jam.
3. Pembuangan kapur: Kulit dimasukkan dalam drum putar berisi larutan dengan rasio 500% air dan 0,5% (NH4)2SO4, diputar selama 1 jam. Kemudian diputar lagi dalam drum putar berisi 1%, 2% dan 3% enzimoropon, masing-masing selama 1, 1,5 dan 2 jam. Sesudah itu kulit direndam dalam drum putar berisi larutan mengandung 5% H2O2 selama 10-20 jam. Selanjutnya kulit dicuci dengan larutan 500% air dan 75% NaCl selama 30 menit.
Baca Selengkapnya...

Pulau Surgawi Itu Bernama Dodola...

                                           Pulau Dodola di Halmahera Utara.

KOMPAS.com — Laksana surga yang dicampakkan ke bumi. Pulau surgawi itu bernama Dodola. Terletak di Kepulauan Morotai, Maluku Utara, Pulau Dodola terdiri atas dua pulau. Pulau Dodola Besar dan Pulau Dodola Kecil.

Kala air surut, kedua pulau akan menyambung oleh pasir putih memanjang. Sebuah pola guratan nan magis tampak di sepanjang pasir penyambung. Guratan-guratan yang muncul akibat angin dan ombak. Dari Dodola Besar perlu waktu sekitar lima menit berjalan kaki untuk mencapai Dodola Kecil.

Selain pasir yang menyambungkan kedua pulau, air laut yang surut menampakkan karang-karang penuh rumput laut. Sebaliknya, saat air pasang, Dodola pun bercerai menjadi dua pulau, terpisah oleh air laut bagai selat.

Pulau Dodola cocok menjadi lokasi snorkeling dan menyelam. Namun sebagai tempat untuk sekadar berjemur menatap keelokan pantai pun begitu memikat. Pastikan untuk berenang karena air yang begitu biru sangat menggoda diri untuk mencebur ke dalam hangatnya air laut.

Bagai perempuan yang bersolek, bumi Dodola berdandan dengan bedak putih. Ya, pasir putih di Dodola sangat lembut, nyaris serupa dengan bedak atau tepung. Dodola adalah gadis perawan yang rupawan. Pulau tak berpenghuni nan sepi. Hanya sesekali nelayan yang mampir melepas penat.

Saya sempat bertemu dua orang nelayan yang sedang mencari ikan di tengah lautan. Mereka beristirahat sejenak di Pulau Dodola. Ketinting atau perahu tradisional khas Maluku diparkir di tepi pantai. Jika Anda ingin bertandang ke pulau elok itu, Anda bisa menumpang Ketingting.

"Lima puluh ribu sekali jalan," begitu kata salah satu nelayan. Anda bisa juga menyewa speedboat untuk mencapai Pulau Dodola. Namun, menumpang ketinting sambil mengikuti kesibukan nelayan melaut tentu memberi kesan yang lebih mendalam.

Di Dodola Kecil sama sekali tidak ada sentuhan manusia. Berbeda dengan Pulau Dodola Besar yang memiliki dermaga kayu dan bangunan semacam vila. Namun vila itu tak terawat dan dibiarkan telantar. Pemerintah kabupaten memang berencana mengembangkan pulau itu sebagai obyek wisata lengkap dengan penginapan persis di tepi pantai.

Kabupaten Morotai sendiri terdiri dari gugusan lebih dari tiga puluh pulau. Sebagian besar adalah pulau-pulau kecil yang tak berpenghuni. Morotai terkenal sebagai lokasi bersejarah yang berperan besar pada Perang Dunia II. Jepang dan tentara sekutu pernah bertempur di pulau itu. Karena itu, kedua kubu pernah bermarkas.

Sampai kini, sisa peninggalan bersejarah masih bisa terlihat jelas di dasar laut. Karena itu, aktivitas menyelam di Morotai bagai mengabungkan wisata bahari dengan wisata sejarah. Firman, penyelam asli Morotai, menuturkan, ada 13 titik laut yang ada peninggalan sejarah.

"Lima lokasi sudah ada dokumentasinya. Sisanya masih berupa cerita-cerita rakyat, jadi belum terbukti," kata Firman. Kelima lokasi tersebut ada di Wawama, Totodaku, Mira, Buhobuho, dan laut di antara Dodola dengan Kelerai.

"Di Wawama dan Totodaku, ada pesawat sekutu dan jip. Kalau di Mira ada kapal karam. Di Buhohubo dan dekat Dodola ada pesawat tempur," katanya. Firman bertekad untuk terus menyelam demi menyingkap laut Morotai yang menyimpan sisa-sisa Perang Dunia II.
Baca Selengkapnya...

Pariwisata Morotai Layak Dikembangkan

                                 Pulau Dodola Besar dilihat dari Pulau Dodola Kecil

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia bagian timur memerlukan pengembangan di bidang pariwisata. Apalagi dengan kekuatannya di sisi wisata bahari. Salah satu destinasi yang berpotensi adalah Kabupaten Morotai, Maluku Utara.

Ditjen Pemasaran Pariwisata Kembudpar dalam rangka promosi Sail Morotai 2012 menyelenggarakan semi lokakarya bertema Akselerasi Pengembangan Pariwisata Bahari Maluku Utara. Sail Morotai menjadi momentum pengembangan pariwisata bahari di Maluku Utara.

"Wisata bahari adalah wisata yang populer, high end, tapi juga merakyat," kata Dirjen Pemasaran Pariwisata Kemenbudpar, Sapta Nirwandar dalam jumpa pers di Hotel Akmani, Jakarta, Jumat (29/4/2011).

Ia menuturkan di Morotai terdapat kapal karam seperti di Tulamben, Bali, yang sangat cocok untuk wisata bahari. "Dulu ada datanya, di Indonesia ada 520 titik shipwreck peninggalan perang atau tenggelam. Tapi tidak semua spot untuk diving," katanya.

Karena itu, lanjut Sapta, Morotai memiliki potensi wisata karena memadukan unsur sejarah dan bahari.

"Wisata sejarah sudah pasti. Morotai peran penting dalam Perang Dunia kedua," ujar Sapta.
Amerika Serikat dan Jepang pernah menjadikan Morotai sebagai markas mereka. Bahkan sebuah perang besar pernah terjadi di Morotai. Tak heran, di laut maupun di bumi Morotai banyak peninggalan Perang Dunia II.

Besi-besi peninggalan perang ini pun banyak diolah oleh masyarakat setempat menjadi kerajinan besi putih. Sapta berharap dengan perkembangan pariwisata dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.

"Mereka jadi punya lapangan kerja lain. Jadi tidak potong besi. Supaya peninggalan sejarah tetap ada," kata Sapta.

Sementara itu Gubernur Maluku Utara Thaib Armaiyn mengatakan bahwa rencananya Morotai akan menjadi kawasan ekonomi khusus. "Bidang keunggulannya di bidang perikanan dan pariwisata," katanya.
Baca Selengkapnya...

Sail Morotai 2012 Dipastikan Meriah

                                            Pelabuhan di Morotai, Maluku Utara.

JAKARTA, KOMPAS.com — Sail Morotai 2012 dicanangkan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Agustus 2010. Hal ini yang membedakan dengan sail-sail Indonesia lainnya yang biasanya berupa pengajuan dari daerah ke pusat. Ketua Panitia Sail Morotai 2012 ‎Muhajir Albar mengungkapkan hal tersebut dalam jumpa pers di Hotel Akmani, Jakarta, Jumat (29/4/2011).

"Setelah dicanangkan kemudian dibuat pembentukan panitia dan koordinasi dengan departemen-departemen lainnya," kata Muhajir.

Ia menuturkan acara Sail Morotai 2012 akan dilengkapi dengan aneka kegiatan, seperti lomba mancing, wisata kuliner, dan festival kebudayaan.

"Beberapa daerah di Indonesia memiliki pantai dan laut yang bagus. Kita harapkan Morotai jadi salah satu tempat yang bisa diekspos, selain Raja Ampat dan Wakatobi," tutur Dirjen Pemasaran Kembudpar, Sapta Nirwandar.

Namun, untuk bisa melaksanakan Sail Morotai 2012 diperlukan pembangunan infrastruktur. Salah satu kendala adalah ketersediaan hotel. Gubernur Maluku Utara Thaib Armaiyn berjanji pihaknya akan mempersiapkan 1.000 rumah untuk dijadikan homestay dengan perbaikan-perbaikan agar fasilitas homestay memenuhi standar.

Kendala lain adalah pasokan listrik yang terbatas di Kabupaten Morotai. Sehingga pada jam-jam tertentu terjadi pemadaman listrik. Bupati Sukemi Sahab mengatakan, PLN pusat telah berjanji pada 1 Mei 2011 untuk menambah pasokan listrik.

Selain itu, akses yang susah ke Morotai juga menjadi keluhan wisatawan. Tetapi menurut Sukemi, kini ada maskapai yang menang tender untuk penerbangan ke Morotai.

"Pesawat kecil yang menang tender satu minggu beberapa kali penerbangan. Rutenya Ternate-Morotai. Harganya masih subsidi Rp 274.000," ungkapnya.

Selain itu, ada kerja sama TNI AU-Kementerian Kelautan dan Perikanan melepas satu atau dua landasan untuk komersial. Sukemi menambahkan, Morotai sudah kedatangan wisatawan domestik terutama dari Manado dan Makassar.
Baca Selengkapnya...

Mangrove Kalimantan Selatan Terancam

BANJARMASIN, KOMPAS.com - Penebangan pohon mangrove untuk keperluan bahan bangunan oleh masyarakat menjadi ancaman utama kerusakan mangrove di Kalimantan Selatan . Saat ini masih banyak masyarakat menebang pohon mangrove berdiameter di atas 30 sentimeter untuk dijadikan tiang dan papan rumah.

Menurut Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah Kalsel Rakhmadi Kurdi, Senin (21/2/2011) di Banjarmasin, kerusakan mangrove terjadi pada sejumlah titik di pesisir Kalimantan, baik di pulau besar maupun pulau-pulau kecil. Garis pantai Kalsel memanjang sejauh 500 kilometer dari Kabupaten Baritokuala hingga Kotabaru. Luas kawasan mangrove di Kalsel diperkirakan lebih dari 100.000 hektar dan tersebar di lima kabupaten, yakni Kotabaru, Tanahbambu, Tanahlaut, Banjar, dan Baritokuala.

Menurut Rakhmadi, penelitian secara menyeluruh tentang kerusakan mangrove di Kalsel belum ada. Namun, sejauh ini daerah-daerah yang mengalami kerusakan sudah bisa diketahui, antara lain di Aluh-aluh, Kabupaten Banjar dan Kualalapuk di Kabupaten Barito Kuala.

Rakhmadi juga menyoroti keberadaan pelabuhan khusus (pelsus) batubara dan kelapa sawit yang juga memiliki andil besar dalam perusakan mangrove. Tahun 2010 ada 10 pelsus batubara di dalam kawasan hutan dan konservasi yang ditutup karena merusak mangrove.

Kepala Bidang Rehabilitas Lahan dan Hutan Dinas Kehutanan Kalsel, Nafarin mengatakan, dibanding setahun lalu kerusakan mangrove di Kalsel saat ini makin meluas. "Memang ada sejumlah pelsus yang merusak. Kami juga sudah menanganinya," ujarnya.

Selain pelsus, kata Nafarin, kerusakan ini disebabkan oleh kebutuhan tambak ikan oleh masyarakat. Para pembuat tambak umumnya menebangi mangrove. Padahal, mereka bisa memelihara ikan di sela-sela tanaman mangrove. Kehancuran terbesar mangrove oleh aktivitas pembuatan tambak terjadi tahun 1980-an.

Kerusakan mangrove di Kalsel juga belum diimbangi upaya penanaman kembali yang memadai. Kondisi antara lain terjadi di Pulau Kaget di tengah Sungai Barito, yang sejak 2008 baru ditanam sekitar 5.000 pohon.
Padahal sekitar 50 persen atau 42 hektar dari total luas pulau yang mencapai 85 hektar itu, kini sudah menjadi areal pertanian. Sisanya masih berupa mangrove dan menjadi habitat sekitar 100 ekor bekantan.
Baca Selengkapnya...

free web counters